Teknologi
Dan Budaya
Pengaruh
Narsistik dan Pengaruh Berpakaian
Anggota
Kelompok 8:
1.
Adellia
Rahmayanti
2.
Deliva Titu
Mardien
3.
Muhammad Azis
4.
Septian Dwi
Susanto
Pengaruh
Narsistik Terhadap Kehidupan Sosial
Klaim sebelumnya yang mengatakan Dwi jebolan Tokyo Institute
Technology Jepang yang merancang wahana peluncur satelit untuk Kementerian
Pertahanan Belanda dan mengerjakan proyek strategis Stasiun Luar Angkasa
Internasional (ISS), seluruhnya bohong.
Dia pun tidak pernah menyabet juara di lomba riset antar
badan antariksa di Jerman dan tidak pernah diajak bertemu oleh mantan Presiden
BJ Habibie.
Faktanya, Dwi lulus dari Institut Sains dan Teknologi
AKPRIND Yogyakarta pada 15 November 2005. Seperti dikutip Tempo, Rektor
AKPRIND, Amir Hamzah mengatakan Dwi lulus dengan predikat cum laude, menyandang
predikat lulusan terbaik, dan punya indeks prestasi kumulatif 3,88. Kini dia
sedang menyelesaikan program doktoral dalam kelompok riset intelijensi
interaktif, dan bukan sebagai asisten profesor seperti yang dibualkan.
Menurut Dwi, dua pekan terakhir pihak universitas TU Delft
menggelar rangkaian sidang kode etik terhadap dirinya. Sampai klarifikasi
ditulis, universitas masih dalam proses pengambilan sikap.
''Prestasinya lumayan ya, tanpa dia harus berbohong dia
sebenarnya oke juga loh. Sayangnya dia melebih-lebihkan dan melakukannya secara
sengaja,'' kata Koordinator Gerakan Bijak Bersosmed, Enda Nasution.
''Itu mungkin yang tidak bisa dimaafkan.''
'Sindrom minder'
''Saya melihat kayaknya ada kerinduan yang sangat tinggi
untuk mendapatkan informasi yang positif tentang Indonesia. Sehingga kalau ada
prestasi-prestasi orang Indonesia di luar negeri, kita jadi hiper-heboh,'' kata
dia.
''Bahkan ada orang Indonesia masuk jadi marinir saja di
Amerika Serikat, kayaknya buat kita sudah menjadi sebuah berita.''
Enda melihatnya sebagai 'sindrom minder', akibat merasa
kurang percaya diri saat dibandingkan dengan negara lain.
''Saya melihatnya ini bukan fenomena, tapi sindrom mindernya
yang masih ada. Kita merasa kurang percaya diri kalau dibandingkan dengan
negara lain, seolah-olah kalau ada sesuatu yang datang dari negara lain atau
sesuatu yang punya prestasi di negara lain menjadi suatu yang perlu. Tidak
salah sih, tidak salah banget. Cuma jangan juga sampai buta,'' kata dia.
Di era medsos, lanjut dia, mudah sekali 'menyampaikan
sesuatu yang tidak selalu benar dan tidak selalu orisinal'. Tapi sebaliknya,
zaman informasi pula yang membuat proses verifikasi jauh lebih mudah.
Sejumlah media besar yang terlanjur memberi panggung bagi
kebohongan Dwi Hartanto termasuk sederet media andalan seperti Detik, Tempo,
dan program Mata Najwa di Metro TV. Di program Mata Najwa misalnya, Dwi bahkan
disanjung sebagai orang non-Eropa pertama yang masuk dalam lingkaran penting
Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA).
Enda lalu membandingkan kasus Dwi Hartanto dengan Khoirul
Anwar, peneliti Indonesia yang disebut oleh media dan banyak orang sebagai
penemu dan bahkan memiliki paten untuk teknologi 4G. ''Saya melihat ada benang
merahnya. Untungnya Khoirul Anwar tidak menipu ya, dia betul-betul seorang
peneliti dan memberi bantahan,'' kata dia.
''Saya yakin media dan orang Indonesia lain tidak punya
niatan jelek untuk kemudian mendukung kebohongan Dwi Hartanto, tapi jangan juga
terlalu naif untuk menerima begitu saja seolah-olah semua prestasi itu menjadi
benar tanpa kita cek ulang.''
Matinya 'ruang kritik'
Enda berpendapat, di era medsos sekarang, sepatutnya segala
lini cukup kritis untuk mengecek benar-tidaknya kabar yang beredar.
''Kadang hal kritis ini pun kita agak ragu mengungkapkannya
karena khawatir dianggap iri atau tidak ingin melihat orang lain senang.
Padahal ruang untuk kritis itu sebenarnya penting,'' kata dia.
Ruang kritis, yang menurut Enda luput oleh media yang
memberikan panggung kepada Dwi Hartanto adalah memverifikasi prestasi
akademisnya.
''Kritik terhadap teman media juga, prestasinya akademis itu
sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dicek. Berapa banyak paper yang dia tulis,
berapa kali dia dikutip oleh peneliti yang lain. Itu sebenarnya sangat mudah,
bisa kita cek.''
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia
Internasional (I4), Johny Setiawan, dalam surat pernyataan sikapnya mengatakan
bahwa kelakuan Dwi Hartanto 'membahayakan integritas akademisi'.
Dari kasus kebohongan intelektual ini, Johny mengingatkan
kembali pentingnya 'kode etik penelitian'.
1. Merasa Diri Paling Hebat
Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan
dengan orang yang benar-benar hebat atau penting) maka ia tidak akan malu-malu
untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu
untuk mendukung citra atau image yang dibentuknya sendiri, individu rela
menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil
memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia
tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi
mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran
cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara
instant (dibeli) di koran-koran oleh “diri sendiri” dianggap bukan suatu hal
yang aneh. Merasa diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai dengan
potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of
self-important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar
(prestasi) dan harta benda.
Pengaruh Budaya
Berpakaian Barat Terhadap Sosial
Secara
etimologis istilah kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, yaitu budhaya
yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Adapun
kebudayaan menurut penyusun merupakan hasil pemikiran sekelompok masyarakat
yang berkenaan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.
Setiap
bangsa dan Negara mempunya budaya yang beragam dan unik. Menjunjung tinggi niai
kesopanan merupakan salah satu ciri dari bangsa Indonesia, baik dari tata
bahasa, perilaku, gaya hidup seperti style/fashion yang telah menjadi budaya.
Adapun gaya hidup khususnya gaya berpakaian orang Indonesia sangatlah sopan,
mengikuti budaya timuy yaitu mayoritas berkerudung, utamanya menutup aurat atau
istilah kasarnya tidak buka-bukaan, sesuai norma keagamaan dan norma kesopanan.
Pada era
globalisasi ini, banyak warga Indonesia yang gaya berpakaiannya mengikuti
budaya barat, tidak seharusnya diikuti seluruhnya karena budaya barat tidak
sesuai dengan budaya timur. Remaja masa kini yang mendominasi gaya
berpakaiannya mengikuti gaya berpakaian barat. Hubungannya dengan peradaban,
kasus ini terjadi karena pengaruh dari globalisasi. Kebudayaan peradaban
merupakan kesatuan yang saling berkaitan.
Pengaruh
globalisasi sangat berdampak bagi kehidupan masa kini. Salah satnya terlihat
dari gaya berpakaian remaja masa kini sebagai hasil imitasi dari budaya barat.
Layaknya masyarakat Indonesia memfilter terlebih dahulu budaya asing yang
masuk, tidak asal menerima dan mengaplikasikannya ke kehidupan sehari-hari.
Masalah ini muncul juga karena beberapa factor, seperti:
- pengaruh budaya asing terhadap
perkembangan gaya hidup, khususnya di kota
yang memang memiliki keterbukaan terhadap budaya asing.
- perkembangan teknologi yang pesat,
pesatnya perkembangan IT menjadi salah satu penyebab masalah gaya hidup.
Mudahnya mencari informasi membuat masyarakat bertransformasi mengubah
gaya hidup mereka sesuai keinginannya agar tidak ketinggalan zaman.
- Pergaulan, bagi sebagian besar remaja,
teman memiliki posisi yang lebih penting daripada orang tua. Oleh karena
itu muncullah suatu ketergantungan terhadap teman.
- Lingkungan masyarakat, ketika satu
lingkungan melaksanakan sesuatu, maka semua lingkungan tersebut cenderung
akan mengikuti dan terbawa arus.
- Rendaknya kesadaran akan kesopanan,
diakibatkan kurangnya pengajaran dari lingkungan keluarga maupun
lingkungan masyarakat sehinggan menyebabkan rendahnya kesopanan dan
kurangnya kedasaran dikarenakan kebiasaan lignkungan.
- Kurangnya control orang tua, orang tua
memiliki peran yang sangat penting untuk mengontrol sejauh mana anaknya
bergaul. Banyak orang tua dari masyarakat kota yang kurang mengontrol
pergaulan anaknya sehingga anak merasa bebas karena tidak ada pengawasan
orang tua dan berdampak pada pergaulan bebas.
- Lemahnya control masayakat, banyak remaja
yang melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat seperti adat dalam
berpakaian, tetapi akibat lemahnya control masyarakat mengakibatkan
pengabaian terhadap pelanggaran-pelanggaran norma tersebut sehingga remaja
yang berpakaian minim sekalipun dihiraukan.
- Kurangnya iman dan taqwa, semakin banyak
ilmu agamanya maka semakin tau pula ia membedakan nama yang benar, serta
nama yang dianggap sopan sesuai dengan budaya Indonesia. Didalam ilmu
agama terkandung nilai-nilai keagamaan dan moral yang baik, seperti
perempuan yang diwajibkan menutup aurat. Jika ilmu ini didalami oleh
setiap orang yang mungkin sedikit atau bahkan tidak aka nada orang yang
berpakaian terbuka layaknya budaya barat.
- Kualitas pendidikan rendah, semakin tinggi
kualitas pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula cara ia berpikir
sehingga ia dapat memilah mana yang baik atau sesuai dengan mana yang
kurang baik atau kurang sesuai. Semakin berpendidika seseorang, maka
semakin ia menyadari bahwa ia harus memegang teguh budaya yang tercipta
oleh Indonesia termasuk kesopanan dalam berpakaian.
- Analisis :
1) Remaja seharusnya
dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan menganggap semua pengaruh yang
berkembang saat ini semuanya baik, karena belum pasti budaya barat tersebut
diterima dan dianggap baik oleh budaya timur kita.
2) Para orang tua
sebaiknya lebih mendekatkan diri kepada anaknya,dan berusaha menjadi teman untu
anaknya sehingga dapat memberikan saran kepada anak dan anak pasti akan merasa
lebih dekat kepada orang tuanya dan kan mengingat saran dari orang tuanya
tersebut.
3) Pemeritah
lebih tegas terhadap peraturan, khususnya penyimpangan perilaku akibat pengaruh
budaya asing.
4) Masyarkat
hendaknya membantu pemerintah, dalam menaggulangi perkembangan budaya barat
atau budaya asing yang bersifat negatif.

Komentar
Posting Komentar